BALIKPAPAN – Back to basic, begitulah kira-kira ungkapan yang pas untuk menggambarkan metode penjurian yang diterapkan di latber Bayu Vaganza, Balikpapan.

“Kita gunakan model penjurian era 90-an, jadi yang mendapat bendera kecil hanya burung yang punya irama lagu yang bagus dan aktif. Jadi bukan bukan sekedar bunyi,” terang Korlap juri Bayu Vaganza, Iwan Brewok kepada Burung Juara, Rabu (18/11/15).

Ia menambahkan, jika burung di gantangan mendapat bendera kecil, itu berarti burung tersebut mendapat nilai mentok. Artinya burung tersebut terpantau punya irama lagu yang bagus dan aktif atau selalu bunyi saat dipantau oleh juri.

“Nah, tinggal dihitung aja itu, berapa bendera yang didapat burung tersebut, itulah jumlah nilai mentoknya,” imbuh Iwan.

Menurutnya, metode ini untuk menjaga transparansi dalam penjurian. Sebab, peserta bisa ikut memantau kinerja juri di lapangan.

“Biasanya kan, para peserta hanya tahu berapa nilai mentoknya dari rekap yang dipasang usai lomba. Tapi di sini (Bayu Vaganza), nilai mentok sudah bisa diketahui saat lomba masih berlangsung,” tandasnya Iwan saat ditemui di kediamannya.

Lebih lanjut, kata Iwan, metode ini efektif untuk mengantisipasi permainan curang pada tahap rekapitulasi nilai. Selain itu, metode ini juga mempercepat kinerja juri di lapangan. Sebab, cukup dengan menghitung berapa bendera mentok terbanyak, Korlap bisa menentukan burung-burung mana saja yang layak mendapat nominasi juara.

“Tinggal dihitung saja berapa bendera kecilnya, nah itu burung yang layak dapat nominasi juara. Dari nominasi ini, juri tinggal membandingkan, burung mana yang layak juara 1, 2, 3 dan seterusnya,” ujarnya lagi.

Dikatakannya, selain menghitung bendera kecil, bendera nominasi hanya layak diberikan kepada burung yang memiliki durasi kerja tak kurang dari 75 persen.

“Kalau telat jalan sampai pertengahan lomba, artinya durasi kerjanya kurang dari 75 persen, tidak layak dapat nominasi,” tegasnya.

Sementara itu, untuk burung yang memiliki nilai mentok sama, namun tidak mendapatkan bendera koncer juara, latber Bayu Vaganza tidak memberlakukan sistem toss. Juara diberikan kepada burung dengan gantangan terkecil.

“Iya, misalnya sama dapat nilai mentok 3, dan berhak atas juara 6 dan 7, maka yang dapat juara 6 adalah burung dengan nomor gantangan lebih kecil daripada yang juara 7,” ujarnya menjelaskan.

Sedangkan khusus untuk metode penilai lovebird, jajaran pengurus dan juri Bayu Vaganza saat ini tengah menggodok metode penjurian yang berbeda.

“Nah itu, saat ini sedang kami bahas. Nanti akan kami berlakukan sistem poin. Misalnya ngekek pendek poin 1, ngekek panjang sekian poin. Tapi masih kami bahas. Ini untuk merespons aspirasi temen-temen pemain lovebird. Kan ada itu yang burungnya ngekek pendek tapi rajin, ada juga yang panjang tapi hanya sekali. Nah itu nanti kami hitung berdasarkan poin, panjang berapa kali, pendek berapa kali. Tinggal dijumlah aja poinnya. Tapi penerapannya kapan, tunggu saja informasi kami selanjutnya,” pungkas Iwan.(rie)

Share the joy
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •