BALIKPAPAN – Surat edaran Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) nomor 524/1828/EK perihal penutupan sementara lalulintas unggas dan turunannya terkait merebaknya kasus flu burung di Pulau Jawa, membuat geger jagat perburungan Kalimantan Timur.

Surat ini berlaku sejak 13 April 2016, dan hingga kini belum ada kepastian kapan bakal dicabut. Inilah yang menjadi keluhan para pedagang burung maupun Koncer Mania Kalimantan Timur.

Betapa tidak, selama ini materi jagoan Koncer Mania Kaltim sebagian besar masih dipasok dari Jawa. Apalagi bagi pedagang burung, kini mereka terancam kehilangan mata pencaharian, karena kesulitan mendapatkan burung untuk bisa mereka jual.

“400 ekor burung kenari yang sudah saya bayar dari peternak di Jawa, terpaksa tertahan di Solo. Karena tidak bisa masuk ke Balikpapan. Ndak tau mas, mau jual apa saya nanti. Ini sudah berlangsung lebih dari dua bulan,” keluh Otniel, pengepul burung asal Balikpapan, Kamis (2/6/2016).

Menurutnya, saat ini larangan tersebut sudah sedikit melunak, tapi tetap menyulitkan pengusaha kecil seperti dirinya.

“Beberapa daerah sudah boleh masuk ke sini, tapi harus pakai PCR (Polymerase Chain Reaction) atau tes laboratorium dan SKKH (Surat Keterangan Kesehatan Hewan) asli. PCR ini biayanya Rp400 ribu per ekor.  Mau jual berapa burung saya? Kenari aja jualnya Rp200 ribu perekor,” sebutnya.

Bukan hanya itu, setelah melengkapi berkas tersebut, pemilik burung harus mengirimkan surat tersebut ke Badan Perizinan dan Penanaman Modal untuk diproses, dengan masa proses 3 hingga 5 hari kerja.

“Setelah surat ini jadi, baru kita kirim ke kota pengirim, untuk melengkapi berkas burung yang kita kirim ke Balikpapan. Panjang sekali birokrasinya. Syarat ini juga berlaku untuk burung yang mau dilombakan. Ini sebenarnya, mau membunuh virus flu burung atau membunuh pengusaha kecil seperti saya?,” kata Otniel.

Persyaratan tersebut, kata Otniel, tidak berlaku bagi pengusaha unggas yang memiliki badan hukum berbentuk perseroan (PT).  Namun ini jelas menyulitkan pengusaha kecil seperti dirinya.

Yang aneh, menurutnya, saat ini unggas jenis ayam dan bebek masih bisa masuk ke Kalimantan Timur. Pada unggas jenis inilah yang rentan terpapar avian influenza.

“Banyak itu ayam dan bebek masuk ke sini lewat Bandara Sepinggan, padahal kan jenis ini yang selama ini terbukti positif mengidap flu burung. Kalau untuk burung berkicau, saya belum pernah lihat. Di berita juga ndak pernah ada,” tambahnya.

Keluhan serupa juga disampaikan oleh event organizer lomba burung kawakan asal Balikapapan, John Laris.

Menurutnya, kini ia kesulitan mengundang para pemain burung dari Pulau Jawa untuk hadir dalam event yang ia gelar di Balikpapan. Sebab, sejak surat edaran Gubernur tersebut diberlakukan Kicau Mania asal Jawa kesulitan membawa burung jagoannya untuk bertanding di Kaltim.

“Susah coy, burung untuk lomba pun juga susah. Teman-teman di Jawa jadi tidak bisa masuk ke sini. Kita mau lomba keluar juga susah, harus ada izin BKSDA provinsi sebelum kita lomba ke luar pulau. Padahal kita ini kan tidak main burung apendik. Masak kenari apendik, lovebird apendik?” ujar John Laris.

Padahal menurutnya, hobi kicauan saat ini sudah menjadi bisnis yang cukup menguntungkan, termasuk mendukung tumbuhnya industri kreatif yang kini sedang didengungkan oleh Presiden Joko Widodo.

“Hobi burung ini jangan disepelekan.  Ada banyak orang bergantung nasib dari hobi ini. Dari mulai pedagang burung, perajin sangkar, produsen makanan, obat-obatan, juri, panitia, dan banyak lagi lainnya. Hotel dan travel juga ramai kunjungan kalau ada lomba burung tingkat nasional. Bahkan tukang parkir dan pedagang gorengan juga laris kalau lomba burung,” jelasnya.

Ia berharap, Gubernur Kaltim berkenan mengevaluasi edaran tersebut. Sebab, edaran tersebut memiliki dampak yang luas, bukan hanya pada dunia burung, tetapi juga terhadap pertumbuhan industri kreatif di Kalimantan Timur.

Diketahui, hari ini, hobi burung sudah menjadi industri bisnis yang menggiurkan. Di Balikpapan sendiri, terdapat lebih dari 100 kios burung. Jumlah ini belum termasuk kios burung di Samarinda, Tenggarong, Bontang, Sangata, dan kawasan lain di Kalimantan Timur.

Meski untuk wilayah Kaltim sendiri belum ada data pasti mengenai besaran nilai perputaran uang dalam bisnis burung. Namun sebagai perbandingan, hasil Survei Burung Indonesia bersama University of Oxford, Pelestari Burung Indonesia (PBI),  AC Nielsen, Aksenta, dan Darwin Initiative pada tahun 2007 lalu di Pulau Jawa dan Bali, nilai perputaran uang pada bisnis ini mencapai Rp 7 triliun pertahun.(rya)

 

 

 

 

 

 

Share the joy
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •